Motif Batik Batang

Keberagaman bentuk alam dan wilayah Kota Batang menjadikan wilayah kota ini dan masyarakatnya memiliki ragam budaya yang sangat banyak. Budaya masyarakat Kota Batang sangat beragam dapat dilihat pada berbagai jenis motif batik yang menjadi ciri khas kota ini. Motif batik dari kota ini memiliki bentuk motif yang sangat bervariasi. Sebuah hasil penelitian yang dilakukan pada sekitar tahun 2010 menyebutkan Batik Batang merupakan batik yang dapat di golong kan dalam dua jenis gaya. Motif Batik Batik Keratonan dan juga motif batik yang menggunakan pola Batik Pesisir.

Motif Baju Batik Batang yang menggunakan pola Batik Keratonan pada umumnya mendapat pengaruh dari kebudayaan masyarakat jawa dan juga Hindu. Sementara itu untuk motif baju batik yang menggunakan gaya pesisiran pada umumnya mendapatkan pengaruh dari budaya bangsa asing seperti Cina dan juga Belanda. Batik Batang dengan gaya khas keraton di kenal juga dengan sebutan Batik Batang Jawa, selain itu ada juga yang menyebut dengan nama Batik Vorstenlanden, atau ada juga sebutan Batik Batang Pedalaman. Budaya Hindu dan juga budha India ini sangat terlihat jelas pada motif batik batang keraton ini. Menurut bapak Eman Tri Warsono, Batik Batang dengan pola ketan ini juga kerap disebut sebagai Batik Batangan.

Corak warna yang terdapat pada Batik Batang Keraton banyak yang menggunakan pola warna sogan irengan dengan pola batik yang berbentuk geometris atau campuran pola geometris yang menggunakan tema bebas. Motif Batik Keraton yang banyak memberikan pengaruh pada batik batang diantaranya adalah Motif Batik Udan Liris, Motif Batik Romo Ukel, Motif Batik Parang dan masih banyak lainnya. Pola batik batang lokasi pada umumnya adalah Motif Batik Manggaran, Motif Batik Kembang Cepoko, Motif Batik Gemek Setekem dan masih banyak lagi lainnya.

 

Iklan

Sejarah Serabi Kalibeluk Warungasem Batang

mBatang.Com Ada sisi menarik dari Serabi Kalibeluk. Kudapan empuk dari Desa Kalibeluk, kecamatan Warungasem, Batang ini memiliki nilai sejarah legenda yang unik. Dan menjenguk Desa Kalibeluk rasanya belum sempurna kalau tidak mencicipi serabi dan cari tahu asal-usulnya.

Jika menyusuri lorong-lorong jalan di perkampungan itu akan banyak dijumpai rumah sekaligus warung. Untuk menandai di tempat itu sebagai perajin serabi mudah saja. Jika ada rumah yang jendelanya terbuka lebar dan ada ibu-ibu sedang duduk di depan tungku pastilah itu rumah perajin serabi.

Proses pembuatan serabi menggunakan peralatan sederhana. Adonan kental dituang dalam wajan tanah di atas tunggu. Ini merupakan daya tarik tersendiri. Para pembeli bisa datang langsung ke kampung Kalibeluk sambil melihat proses pembuatannya, atau cukup membeli di pasar tradisional.

Bagi masyarakat, menyantap serabi di pagi hari sama dengan sarapan, karena makan satu biji saja perut sudah terasa kenyang. Harganya pun terjangkau, satu linting (tangkep) cuma Rp 2.000. Begitulah ciri khas jajanan tradisional, murah dan mengenyangkan.

Memang, bagi warga Kalibeluk membuat serabi itu merupakan usaha tradisional warisan nenek moyang. Kesan tradisionalnya sangat kelihatan, terutama dari proses pengolahannya. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah didapat di daerah sekitar yakni beras, kelapa, dan gula jawa.

Orang mungkin akan berpikir dan bertanya, mengapa serabi Kalibeluk bisa terkenal dan digemari masyarakat. Padahal yang namanya serabi di mana-mana sama saja, dari bahan-bahan yang disediakan sampai proses pengolahannya.

Yang membedakan antara Serabi Kalibeluk dengan serabi-serabi lainnya barangkali hanya pada unsur kesejarahan dan trade mark yang sudah kelewat melekat di benak publik sehingga menimbulkan kesan istimewa.Terjadi semacam proses ”legitimasi” dalam budaya kuliner yang menimbulkan fanatisme masyarakat dalam memilih jajanan.

Legenda Serabi Kalibeluk Warungasem Batang
Serabi Kalibeluk jadi legenda dan disukai banyak orang bukan hanya karena keempukan dan kelezatannya saja, tetapi karena ada cerita unik di belakangnya. Tidak jelas sejak kapan masyarakat Kalibeluk menekuni usaha pembuatan serabi. Tetapi dari legenda yang ada, usaha pembuatan serabi ini sudah ada sejak zaman Mataram.

Dikisahkan, dahulu di desa Kalisalak ada seorang gadis cantik bernama Dewi Rantansai yang hendak dipersunting Sultan Mataram. Maka diutuslah orang kepercayaan Sultan bernama Bahureksa untuk menemui Dewi Rantansari untuk melamarnya. Namun setelah bertemu Dewi Rantansari, ternyata Bahureksa berubah pikiran. Dirinya justru jatuh cinta pada Dewi Rantansari dan berniat mempersuntingnya untuk diri sendiri.

Untuk mengelabuhi Sultan, maka Bahureksa membuat rekayasa dengan menyuruh gadis lain yang kecantikannya setara dengan Dewi Rantansari. Dipilihlah Endang Wiranti, anak penjual serabi dari desa Kalibeluk. Gadis cantik itu disuruh menemui Sultan Mataram dengan menyamar sebagai Dewi Rantansari.  Sultan Mataram menerima Endang Wiranti dengan senang hati, tetapi Endang Wiranti tidak kuasa membohongi hati nuraninya sampai akhirnya pingsan. Setelah siuman Endang Wiranti mengakui jati diri yang sebenarnya. Lantaran kejujurannya, maka Sultan Mataram menyuruh Endang Wiranti pulang ke desanya dan menghadiahi sejumlah uang agar bisa meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi di desa Kalibeluk.

Cerita legenda tersebut sudah terpatri kuat dalam ingatan masyarakat Batang. Tokoh legenda Endang Wiranti diyakini benar-benar pernah ada dan menjadi representasi pedagang serabi di desa Kalibeluk. Pesan moral yang didapat dari tokoh Endang Wiranti adalah kejujuran dan kesederhanaan, yang merupakan mutiara sangat berharga dari hidup. Lantaran kejujuran inilah Endang Wiranti mendapatkan hadiah dan bisa meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi. Dari sinilah tradisi pembuatan serabi kian berakar dalam kehidupan masyarakat Kalibeluk.

Cerita sentimentil itu memang tidak terlalu penting. Persoalan saat ini adalah bagaimana mengupayakan agar usaha serabi di desa Kalibeluk bisa berkembang dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya hebat dalam hal promosi dan reputasi.

Selama ini serabi Kalibeluk sudah kondang di mana-mana karena telah dipromosikan lewat berbagai event. Pemkab Batang lewat Kantor Pariwisata pernah mengajak para penjual serabi menggelar dagangannya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada saat kontingen kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng.

Uluran tangan juga datang dari Kantor Perindustrian dan Perdagangan dengan memberinya mesin pembuat tepung dan parutan kelapa. Bahkan Bupati Bambang Bintoro juga ikut cawe-cawe, sekali waktu memesan serabi Kalibeluk untuk menjamu tamu-tamunya dari luar kota.

Namun dari pengakuan para produsen serabi, kesulitan yang selama ini dirasakan adalah soal pemasaran. Inilah penyebab industri rumah tangga itu sulit berkembang. Maka diperlukan strategi pemasaran yang jitu dengan manajemen yang lebih profesional.

Memang, namanya kue serabi harus habis dalam waktu sehari. Kalau sampai bobor (tidak habis) maka pedagang akan rugi. Inilah barangkali kendala paling menyusahkan.
Source : Suara Merdeka

http://www.mbatang.com/2012/10/sejarah-serabi-kalibeluk-warungasem.html

 

Sentra Kerajinan Kulit Masin di Batang, Turun Temurun Hingga Kini

Batang – Terkenal memiliki pantai yang indah seperti Pantai Ujung Negoro dan Pantai Sigandu, juga terkenal dengan berbagai jamuan kulinernya yang eksotik dari mulai makanan laut seperti ikan, udang dan lainnya.

Batang juga terkenal memiliki banyak pengrajin bak truk yang berjejer sepanjang jalan raya Tulis hingga Subah. Karena wilayah Batang memiliki ketersediaan kayu yang berlimpah.  Dan Kabupaten Batang juga memiliki sentra kerajinan kulit yang terletak di Desa Masin, Kecamatan Warungasem – Kabupaten Batang.

Sentra Kerajinan Kulit Masin, demikian penduduk Batang biasa menyebut. Merupakan pusat kerajinan berbahan dasar kulit yang sudah turun temurun sejak jaman dahulu. Kegiatan menyamak kulit, membuat tas kulit, dompet kulit hingga ikat pinggang dari kulit, menjadi kegiatan utama sebagian warga Masin.

Kecamatan Warungasem (yang kebetulan kampung kelahiran penulis), menerima pendapatan terbesar dari sektor industri kerajinan kulit Masin, dibandingkan industri lainnya seperti kuliner.

Sektor industri wisata dari kerajinan kulit di Masin ini akan semakin meningkat produksi dan permintaannya bila memasuki masa-masa liburan atau menjelang hari raya idul fitri. Setidaknya pengrajin kulit di desa Masin ini bisa meraup keuntungan jutaan rupiah setiap bulannya.

Kualitas produk kerajinan kulit Masin ini bisa bersaing dengan kerajinan kulit asal Cibaduyut, Bandung. Untuk ukuran ikat pinggang yang menggunakan kulit sapi asli, bisa dipakai dan digunakan selama lebih dari 10 tahun. Bahkan penulis merasakan sendiri memiliki ikat pinggang warisan orang tua yang dibelinya sejak muda dari Masin.

Sentra kerajinan kulit Masin hingga kini masih memproduksi puluhan produk yang disebarkan ke berbagai penjuru wilayah Indonesia bahkan ekspor luar negeri. Dukungan dari pemerintah Kabupaten untuk pengrajin kulit semakin menambah besar skala kuantiti produk kerajinan kulit ini.

Kebutuhan produksi kerajinan kulit ini meningkat dari setiap bulannya, tercatat ada sekitar lebih dari 3 ton kulit sapi yang dibutuhkan perbulannya. Harga produk dari setiap kerajinannya mulai dari 80.000 rupiah hingga ratusan ribu. Hingga bisa menghasilkan omset untuk setiap pengrajin dari mulai 50 juta hingga 500 juta perbulannya.

Ingin berwisata ke Batang? Jangan lewatkan untuk mempir ke sentra kerajinan kulit di Desa Masin ini. Dan selamat datang.

 

 

Kerupuk Rambak Kulit Ikan Batang Gurih dan Tipis

SALAH satu usaha kecil di Kabupaten Batang yang potensial untuk dikembangkan adalah rambak kulit ikan. Adalah Intan Mina Bahari perusaahaan pembuatan rambak atau kerupuk milik Abdul Mufid Syafii yang beralamat di Jl RE Martadinata 448 Batang yang kini produksinya selalu dicari orang.Kerupuk rambak kulit ikan tidak hanya enak untuk lauk makan. Tapi juga untukcemilan, karena rasanya gurih, di samping itu tipis. Mufid menjelaskan usaha itu sudah digelutinya sejak tahun 1992. Bermula dari usaha memanfaatkan kulit ikan yang tidak terbuang.”Awalnya saya hanya mencoba-coba, karena melihat banyak kulit ikan yang dibuang. Karena ikan-ikan laut kebanyakan diambil dagingnya, sedangkan kulit dan duri serta kepala banyak yang dibuang,” ujar dia.

Namun lambat laun, hasil uji cobanya itu dikembangkan menjadi industri rumah tangga. Hal itu dilakukan saat dia mengirimkan ikan ke pabrik pengalengan di Sidoarjo, meminta agar kulitnya dikembalikan ke Batang.

”Pembuatannya sangat mudah. Kulit ikan dibersihkan kemudian direndam dalam air yang sudah diberi bumbu. Selanjutnya dikeringkan, dan baru digoreng.”

Bumbu untuk rambak kulit ikan hanyalah ketumbar, bawang, dan salam sedikit. Setelah kering seratus persen baru bisa digoreng.

Tidak semua jenis ikan bisa dibuat rambak. Karena kulitnya berbeda-beda, tergantung dari jenis ikan.”Yang paling mudah dan enak hanya kulit kakap merah dan putih serta kulit ikan tuna. Lainnya, mudah sobek atau ada yang kalau kering tidak bisa mengembang.”

Pada awal produksi 1 kg/kerupuk rambak kulit ikan dijual Rp 8.000. Sekarang ini sudah mencapai Rp 60.000/kg.

Sedangkan pemasarannya sudah melebar sampai beberapa kota besar di Pulau Jawa. Hanya saja, kendala yang dihadapinya pun bermacam-macam.

”Terus terang kami kesulitan dalam pemasaran, padahal permintaan sangat banyak. Buktinya, dalam Festival Orari kemarin banyak yang memborong,” ujar Mufid.

 

Pengepakan

Kendala lainnya, katanya adalah proses pengepakan setelah jadi. Sehingga, bisa menjadi barang yang kemedol. Karena selama ini kerupuk rambak buatannya hanya dibungkus secara sederhana.Pemasarannya pun kini dilakukan dengan mengirmkan ke warung-warung makan seperti bakso dan mi ayam. Disamping itu di toko makanan di Batang dan Pekalongan.

”Kami ingin kerupuk kulit asli Batang ini bisa kemedol. Saat paling mengesankan tahun 1994 ketika Pak Gubernur Suwardi mampir dan memborong kerupuk.”

Di warungnya selain menjual kerupuk kulit ikan juga menjual ikan asin, dan hasil industri perikanannya lainnya.

Lebaran merupakan musim panen bagi dirinya. Karena banyak yang memborong. ”Kalau Lebaran banyak yang memborong untuk oleh-oleh. Sehingga, saya harus mendatangkan bahan baku yang banyak.”

 

 

 

Sri Cahyaningrum SS pembeli dari Gringsing yang saat itu kebetulan sedang memborong kerupuk.

”Saya selalu menyiapkan kerupuk rambak dari kulit ikan. Selain anak kebetulan sangat senang, juga kalau pas nonton sinetron sambil ngemil makan, kok rasanya nikmat. Selain rasanya gurih dan juga kemripik.”

Dia menambahkan, rasa kerupuk rambak kulit ikan buatan Intan Mina Abadi layak untuk dikembangkan menjadi produk unggulan. Hal dengan pertimbangan, Batang mempunyai banyak pabrik pengolahan ikan. (Arif Suryoto-20)

 

sumber :

http://www.suaramerdeka.com/harian/0304/23/dar5.htm

 

 

Emping Melinjo dan Tradisi Warga Limpung

Jangan pernah berani membuat marah perempuan Limpung”. Guyonan ini sering dilontarkan kepada tamu yang datang ke Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Di wilayah Limpung, mayoritas perempuannya piawai membuat emping melinjo secara tradisional. Guyonan itu muncul karena para perempuan di Limpung setiap hari menumbuk melinjo itu dengan sebuah palu besi berukuran besar. Proses pembuatan emping melinjo ini terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelatenan dan kekuatan. Salah perhitungan, jempol tangan pun yang tertumbuk. Menurut Supami (50), warga Desa Ngaliyan, Kecamatan Limpung, proses pembuatan emping yakni sebelum ditumbuk, melinjo disangrai dulu agar mudah mengelupas di atas sebuah tungku. Kulit melinjo yang terkelupas dipakai sebagai ”kayu bakar” untuk proses menyangrai. Setelah dikupas, melinjo ditumbuk untuk membuat emping berdiameter lima sentimeter. Setiap lembarnya membutuhkan sekitar 8 biji melinjo. ”Saya membuat emping ini sejak kecil, diajari orang tua,” kata Supami, Minggu (12/12). Emping melinjo ini pula yang menjadi komoditas andalan Kabupaten Batang. Desa Ngaliyan merupakan salah satu sentra emping melinjo terbesar di Kecamatan Limpung. Di Batang, selain Kecamatan Limpung, sentra pembuatan emping melinjo juga terdapat di Kecamatan Reban, Tersono, dan Kecamatan Bawang, yangmelibatkan ribuan perajin. Produk emping melinjo di Batang juga diperkenalkan melalui internet. Menurut Ketua Kelompok Wanita Tani Rejo Desa Ngaliyan, Istikhanah, emping melinjo menjadi incaran konsumen di beberapa kota besar seperti Purwokerto, Semarang, Jakarta, Bandung, dan Bali. Kelompok Tani Rejo memiliki anggota aktif sebanyak 33 orang. ”Masih ada puluhan ibu-ibu yang tidak jadi anggota, tetapi aktif membuat emping di rumah masing-masing,” katanya. Para perajin emping setiap hari mengolah minimal sebanyak 5 kilogram (kg) melinjo. Dari setiap 2 kg melinjo dapat diolah menjadi 1 kg emping basah. Emping basah Sebagian besar memproduksi emping basah yang harus digoreng terlebih dulu sebelum dimakan. Emping basah yang dibungkus kantong plastik ini dijual Rp 15.000 per bungkus. Namun, ada pula warga yang membuat emping gepuk, yaitu emping yang sudah diolah dengan berbagai rasa dan siap saji. Emping gepuk ini memiliki bermacam rasa, seperti asin, manis, dan pedas. Setiap bungkus dijual Rp 10.000. Khusus emping gepuk rasa asin dijual Rp 12.500 per bungkus. Bahan baku melinjo sebagian besar dibeli dari daerah Banten, Lampung, dan DI Yogyakarta. ”Melinjo dari Limpung tak banyak karena banyak pohon melinjo yang sudah ditebang dan diganti dengan pohon sengon,” kata Istikhanah. Munadi (36), salah satu penjual melinjo di Desa Ngaliyan, melayani sekitar 200 perajin emping di desa itu setiap hari. Emping yang terkumpul di rumah Munadi itu sebagian besar dikirim ke Bali. ”Setiap minggu, kami mengirim sampai 4 ton emping,” kata Munadi. Meski potensi emping sangat besar, Istikhanah mengakui kelemahan dalam pemasaran. ”Warga desa hanya memproduksi, tetapi yang memasarkan lebih banyak para pendatang di Limpung ini,” katanya. Dengan bergantung pada pedagang itu, harga jual emping menjadi fluktuatif karena pedagang menjadi penentu harga. ”Warga memilih menjadi perajin daripada tenaga pemasaran,” kata Istikhanah. Proses pembuatan emping yang sudah menjadi tradisi itu sulit ditinggalkan warga Desa Ngaliyan. Mereka memilih menghabiskan waktu di dapur untuk menumbuk melinjo. (Herpin Dewanto)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Emping Melinjo dan Tradisi Warga Limpung”, https://nasional.kompas.com/read/2010/12/21/05233054/function.fopen

Pengusaha Berharap Pajak UMKM Indonesia Bisa Meniru China

JAKARTA – Pemerintah meluncurkan insentif pajak penghasilan (PPh) final bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 0,5%.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia M. Ikhsan Ingratubun menginginkan  pemerintah memberikan kekhususan kepada para pelaku usaha mikro. Sebab, dari sekitar 59 juta pelaku UMKM sekitar 55 jutanya adalah pelaku usaha mikro. Dari aturan yang sebelumnya, ada terdapat pengecualian pembayaran pajak, namun dengan aturan baru seluruhnya harus membayarkan kewajiban pajaknya.

Dia mencontohkan, insetif pajak China yang menerapkan tarif 0% bagi pelaku usaha mikro yang memiliki omzet Rp60 juta per bulan di mulai pada 2020.

“Sekarang dikasih pilihan, mau bayar 0,5% atau mau buat pembukuan. Ini pemerintah malu-malu, karena pelaku mikro itu pagi sudah belanja ke pasar, siang mendagangkan. Kenapa enggak ikut China, untuk omzet Rp60 juta per bulan. Kalau di China itu mikro kecil yang setara Rp60 juta per bulan atau Rp720 juta per tahun itu 0% nanti di 2020,” ujar Ikshan di Jakarta, Rabu (27/6/2018).

Dia mengatakan dengan tarif khusus bagi pelaku usaha mikro, pemerintah bisa memberikan pendampingan terkait dengan usahanya. Sehingga, para pelaku usaha tersebut naik kelas dan siap menjadi pembayar pajak dan masuk ke dalam sistem perpajakan nasional.

“Pak Jokowi sudah minta 0,25%, Ibu Menkeu (Sri Mulyani) tetap 0,5%. Kami menyambut baik, kalau gembira belum tentu,” jelasnya.

Tingkatkan Semangat Jualan Online dengan Belajar Ngelapak

MARKETPLACE lokal terbesar di Indonesia, Bukalapak, serius mengembangkan komunitas penjual mereka. Para penjual yang biasa disebut pelapak ini dikumpulkan per wilayah.  Mereka membentuk komunitas dan kerap berkumpul untuk berbagi ilmu. Salah satu program unggulannya ialah Belajar Ngelapak Bersama Komunitas (BNBK).

KORAN SINDO berkesempatan hadir di BNBK yang diselenggarakan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 30 Juni dan 1 Juli lalu. Sekitar 80 lebih pelapak hadir. Beberapa dari mereka ada juga pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang belum berjualan di Bukalapak. Banjarmasin merupakan daerah yang tinggi potensi pengembangan UKM sesuai misi Bukalapak, memberdayakan UKM di seluruh penjuru Indonesia. Mereka antusias menyimak setiap informasi dari pembicara.

Salah satunya Hendra Wahyudi, 39, yang memiliki akun Bukalapak, tetapi tidak dimanfaatkannya secara maksimal. Dia lebih mengandalkan website untuk menjual kain Sasirangan khas Kalimantan dan parfum impor asal India. Hendra merasa tertarik dan serius ingin jualan di Bukalapak setelah banyak chat yang masuk, tetapi terabaikan. Dia menyadari peluang di Bukalapak cukup besar.

“Saya juga merasa lebih mudah kalau jualan di Bukalapak dan hemat. Tanpa pengeluaran biaya domain dan jasa desain web, semua sudah tersedia, kita tinggal masukin foto dan update stok barang. Saya juga ingin ikut komunitas supaya bisa nanya-nanya lagi lebih jauh,” ujar Hendra.

BNBK memang bertujuan memberikan wawasan kepada para peserta tentang berbisnis secara online di Bukalapak dan meningkatkan keterampilan dalam mengoptimalkan bisnis mereka. Pendampingan juga akan diberikan untuk memastikan perkembangan bisnis peserta. Selain bertujuan memberikan edukasi, BNBK merupakan ruang yang diberikan Bukalapak kepada komunitas untuk berkreasi dan menyelenggarakan kegiatan di komunitasnya masing-masing. Mega Tri Agustina, Community Manager Bukalapak, menjelaskan, memang banyak keuntungan pelapak bergabung dengan komunitas.

“Kalau ada promo dari Bukalapak, mereka menjadi lebih cepat tahu, bahkan ada akses khusus atau slot khusus bagi anggota komunitas. Kami juga akan terus berupaya membimbing mereka agar jualan di Bukalapak selalu meningkat,” ungkap Mega.

Program BNBK di Banjarmasin yang digelar kedua kalinya sejak 2016 ini pun mendapat dukungan mitra Bukalapak, yakni JNE dan Bank BRI. Keduanya juga memberikan materi kepada peserta, pelaku usaha UKM. Perdagangan online tidak terlepas dari ekspedisi sebagai media pengiriman barang. Depi Hariyanto, Kepala Cabang JNE Kalimantan Selatan, langsung memberi informasi seputar layanan mereka, juga saran bagi UKM yang di daerah untuk mempermudah menggunakan layanan JNE. Bank BRI yang diwakili Bima Setiaji, Asisten Manajer Digital Strategi Bank BRI, juga memaparkan mengenai program digital terbaru Bank BRI, yakni Indonesian Mall, yang akan mengumpulkan UKM Indonesia.

Kerja sama juga akan dilakukan dengan Bukalapak sehingga pelapak akan ada di Indonesian Mall. Transaksi yang tercatat juga menjadi data mereka untuk memberikan kredit kepada pelapak. Kisah sukses dan semangat berdagang online juga dibagikan pelapak lokal yang memang sudah menjadi ranger community atau kordinator lapangan di wilayah Banjarmasin, Fajeri Hidayat. Dia mampu membakar semangat para UKM di Banjarmasin untuk berjualan online melalui Bukalapak.

Juga ada Ressy, Ranger Komunitas Bukalapak Yogyakarta, yang memberikan ilmu cara pengoptimalisasian pemasaran barang jualan di Bukalapak dengan teknik pengambilan foto produk dan menulis deskripsi barang yang baik dan benar. Bukalapak menggarap serius komunitas yang sudah tersebar di 86 kota ini. Di luar tujuan utama menggerakkan UKM daerah, komunitas merupakan bagian dari promosi internal Bukalapak. “Dengan berbagai acara yang dilakukan, banyak manfaat yang didapat pelapak. Mereka akan terus loyal kepada kami”.